APIFAClimate Resilience Hub
Artikel Dampak IklimSMA/SMKBahasa Indonesia

Menggilanya AI dan Krisis Air Bersih

Penggunaan AI membutuhkan sumber daya air untuk mendukung pusat data dan sistem pendingin. Kenali hubungan aktivitas digital dengan penggunaan air serta cara menggunakan AI secara lebih bijak.

Apifa OfficialTerbit 1 Oktober 20266 menit baca
Favoritkan

Difavoritkan 0 orangDibagikan 0 kali

Masuk sebagai siswa untuk menyimpan progres belajarmu dan mengumpulkan badge.

Menggilanya AI dan Krisis Air Bersih

Oleh: Wahid Priyono, S.Pd.

β€œ12 juta liter air bersih musnah cuma demi 4 juta orang fomo trend AI foto jadul” - Instagram @lyfewithless

Perubahan iklim merupakan isu penting yang perlu dipelajari agar diri kita semakin peduli dengan bumi yang kita huni. Perubahan iklim bisa menyebabkan bencana alam meteorologi seperti menipisnya lapisan ozon, efek rumah kaca, krisis air bersih yang ternyata sudah melanda di sejumlah negara, termasuk di Indonesia.

Tahukah bahwa krisis air bersih ternyata ada kaitannya dengan penggunaan Artificial Intelligence (AI) dalam aktivitas digital kita sehari-hari?

Bayangkan saja ada berapa banyak orang yang menghuni bumi ini. Pastinya sudah miliaran orang. Tentu saja, semua aktivitas kita sehari-hari sangat terbantukan dengan adanya internet dan AI. Karena keduanya sudah berdampingan dengan hidup kita.

Tahukah kita bahwa penggunaan AI ternyata menyedot banyak fungsi air bersih di bumi? Dampaknya di bumi akan semakin krisis air bersih sehingga bisa terjadi bencana kekeringan, stunting pada anak akibat sanitasi dan gizi buruk, menurunnya produktivitas hasil pertanian, kerusakan ekosistem, lahan dan keanekaragaman hayati, meningkatnya beban ekonomi masyarakat karena harus membeli air bersih, dan masalah kehidupan lainnya.

Tentu saja dengan semakin sering kita menggunakan AI, itu artinya kita sudah memberikan dampak negatif terhadap bumi secara digital. Terlihat memang aktivitas digital kita diam-diam menggunakan AI, ternyata kita lalai dalam menjaga bumi yang kita cintai ini.

Data-Data Penting Tentang Penggunaan AI dan Dampak Krisis Air Bersih

Dari sejumlah informasi yang saya pelajari dan telaah di internet, penggunaan kecerdasan buatan (AI) meningkat seiring dengan permintaan pasar dan pengguna yang semakin ingin segala sesuatunya dibuat secara instan dan praktis.

Di sisi lain, penggunaan teknologi AI ini ternyata menggunakan begitu banyak air untuk pembangkit listrik dan pendinginan server AI dari overheating.

Lalu berapa banyak air yang digunakan untuk mendukung kinerja mesin server pendingin AI?

Seperti dikutip dari situs resmi CEO OpenAI dan ChatGPT, Sam Altman menyatakan bahwa satu kueri dalam konteks Bahasa Indonesia dapat mencakup pertanyaan, pencarian, permintaan, penyelidikan, atau instruksi ke ChatGPT menghabiskan seperlima belas sendok teh air.

dikutip dari situs resmi CEO Open AI dan ChatGPT, Sam Altman
Dilansir dari situs BBC News Indonesia

Lalu apalagi yang dikatakan oleh perusahaan teknologi lainnya?

Dilansir dari situs BBC News Indonesia, CEO Google, Microsoft, AWS, dan Meta semuanya mengatakan mereka memilih teknologi pendingin dengan cermat berdasarkan kondisi setempat. Mereka semua telah menetapkan target untuk menjadi β€œramah air” pada 2030. Hal ini dilakukan agar keutuhan air bersih di bumi tetap lestari.

Lalu mengapa selama ini perusahaan yang bergerak di bidang teknologi AI tidak menggunakan air keran atau air laut saja untuk mendukung kinerja mesin pendingin AI?

Jawabannya seperti dikutip dari situs Lore Lindu Bariri Global Atmospheric Monitoring Station, air keran atau air laut mengandung kotoran, mineral, dan garam sehingga dapat bersifat korosif serta dapat meninggalkan endapan kerak (scaling) yang merusak komponen pendingin server.

Selain itu, menurut laporan global Water Unite, infrastruktur AI membutuhkan air tawar yang benar-benar murni dan bersih (fresh water). Jika menggunakan air yang mengandung banyak mineral atau kontaminan, pipa-pipa pendingin di dalamnya akan berkarat dan menyumbat sistem sirkulasi. Sehingga untuk pembangkit mesin pendingin AI perlu menggunakan air bersih agar tidak terjadi gangguan pada sistem operasionalnya.

Tentu untuk menghadapi situasi semacam ini, di tengah penggunaan AI yang semakin menggila, maka kita sebagai pengguna teknologi digital yang berbasis AI dan internet harus lebih bijak agar ketercukupan air bersih di bumi tetap ada.

Bagaimana Bisa AI Berpotensi Menyebabkan Krisis Air Bersih?

Tahukah kalian bahwa setiap kali kita melakukan kajian dengan memanfaatkan aplikasi AI, termasuk melakukan prompt, membuat gambar atau foto jadul, video, infografis, dan semua hal yang kita ketik dan dibuat dengan bantuan AI, itu sama saja kita sudah menggunakan air bersih.

Dilansir dari Kompasiana.com, sadar atau tidak, setiap kali kita meminta AI membuat satu gambar lucu atau video pendek, ada air bersih yang digunakan dan terdapat pula risiko data pribadi yang perlu diperhatikan.

Langkah Bijak dan Sederhana yang Perlu Kita Lakukan

Langkah bijak dan sederhana yang perlu kita lakukan adalah menggunakan AI seperlunya saja dalam aktivitas digital kita sehari-hari. Itu artinya bukan berarti kita berhenti secara total menggunakan AI. Gunakan secara bijak, tidak berlebihan.

Menggunakan AI secara berlebihan dan menggantungkan AI untuk semua urusan pekerjaan kita sebenarnya kurang bijak. Akan jauh lebih baik jika diimbangi berpikir secara murni menggunakan otak untuk menerjemahkan kata-kata dan menyusun kalimat dari hasil pemikiran sendiri. Dengan begitu, otak kita akan semakin terlatih untuk berpikir secara kritis (problem solving) dan logis. Ingatlah bahwa AI adalah alat bantu dan bukan satu-satunya yang akan menggantikan otak kita untuk belajar dan berpikir.

Oleh karena itu, bijaklah kita dalam menggunakan AI sebelum kecerdasan buatan ini benar-benar menggantikan otak kita. Selain itu, dampak nyata yang lebih mengerikan ketika kita ketergantungan dengan AI sama halnya kita sudah ikut secara perlahan mengikis air bersih dari bumi yang kita cintai ini.

Dan percayalah bahwa satu langkah bijak yang kita lakukan hari ini dalam memanfaatkan AI, sama halnya kita sedang ikut menjaga dan melestarikan air bersih agar tetap ada di bumi.

Daftar Sumber

  • Altman, S. 2025. The Gentle Singularity. Sam Altman.
  • Gabresi, G.F. 2026. Rising Water Demand from Data Centres: Addressing AI’s Water Impact Through Innovation. Water Unite.
  • Ibrahim, S. 2025. Kecerdasan Buatan Menghabiskan Pasokan Air Minum Kita, Buat Apa?. BBC News Indonesia.
  • Khairiyah, S.D. 2026. Mengetik Prompt, Menguras Bumi: Air Bersih yang "Dibuang" Demi AI. Kompasiana.com.
  • Suwandi, M.H. 2026. Menghitung Harga Sebuah Jawaban: Saat Kecerdasan AI Harus Dibayar dengan Air Bersih dan Udara Segar. Lore Lindu Bariri Global Atmospheric Monitoring Station.
  • Anonim. 2026. 12 Juta Liter Air Bersih Musnah Cuma Demi 4 Juta Orang Fomo Trend AI Foto Jadul. Komunitas Gaya Hidup Bijak Berkonsumsi Indonesia.
  • Canva.com. Canva Premium.
#kecerdasan buatan#krisis air bersih#pusat data#perubahan iklim#konsumsi digital#pendinginan server

Konten lain pada kategori ini

Lanjutkan belajar dengan bahan yang masih satu kategori.

4 menit baca
Artikel Dampak IklimID

Industrialisasi Baju Thrifting Pengingat Buruknya Senitasi Grey Water sebagai Sarana Pertumbuhan Gulma dan Penguatan Kem

Tahukah kamu bahwa pakaian bekas yang kita beli juga memiliki jejak lingkungan? Yuk, kenali bagaimana industri pakaian bekas, penggunaan air dan deterjen, serta limbah tekstil dapat memengaruhi kualitas air dan ekosistem, sekaligus mencari cara berbelanja yang lebih bertanggung jawab.

Oleh Apifa Official

Baca Artikel
4 menit baca
Artikel Dampak IklimID

Zero Waste, Zero Excuse: Langkah Kecil Kurangi Limbah, Dampak Besar Untuk Iklim

Pernahkah kamu berpikir bahwa sampah yang kita hasilkan setiap hari juga bisa ikut memengaruhi perubahan iklim? Yuk, kenali hubungan limbah, gas rumah kaca, dan pemanasan global, serta pelajari gaya hidup zero waste melalui langkah sederhana yang bisa dimulai dari diri sendiri.

Oleh Apifa Official

Baca Artikel
7 menit baca
Artikel Dampak IklimID

Jangan Buang! Sisa Dapur Kampus Ini Diubah Jadi Lilin Aromaterapi dan Deterjen

Tahukah kamu bahwa sisa makanan dan minyak jelantah dari dapur ternyata bisa menjadi masalah bagi lingkungan sekaligus peluang yang bernilai? Yuk, kenali cara mengolah limbah dapur menjadi produk bermanfaat dan aksi sederhana yang bisa dilakukan mulai dari rumah, sekolah, atau kampus.

Oleh Apifa Official

Baca Artikel