Zero Waste, Zero Excuse: Langkah Kecil Kurangi Limbah, Dampak Besar Untuk Iklim
Pernahkah kamu berpikir bahwa sampah yang kita hasilkan setiap hari juga bisa ikut memengaruhi perubahan iklim? Yuk, kenali hubungan limbah, gas rumah kaca, dan pemanasan global, serta pelajari gaya hidup zero waste melalui langkah sederhana yang bisa dimulai dari diri sendiri.
Difavoritkan 1 orangDibagikan 0 kali
Masuk sebagai siswa untuk menyimpan progres belajarmu dan mengumpulkan badge.
Penulis: Lailatul Fitria
Ketika Cuaca Berubah dan Sampah Ikut Berperan
Pernah nggak kamu merasa cuaca kini terasa makin “ngga menentu?" Hujan deras dengan tiba-tiba, lalu panas terik beberapa jam kemudian. Atau berita banjir dan tanah longsor yang sering muncul? Semua itu bukan kebetulan. Salah satu nya perubahan iklim, tahukah kamu? Sampah yang kita hasilkan sehari-hari punya andil besar di perubahan iklim ini. Disini sampah limbah yang dihasilkan tentu punya penyebab dan dampak dari hal tersebut. Penyebab dari perubahan iklim yakni, kurangnya menjaga kebersihan lingkungan, banyak menciptakan polusi, dan tidak menghemat energi. Nah, dari hal yang manusia lakukan ada dampaknya, yaitu, terjadinya perubahan iklim, dan banyak beredar penyakit. Tapi kabar bagusnya: kita bisa mulai melawan perubahan iklim dari hal paling sederhana yakni mengurangi limbah. Dan filosofinya gampang: Zero Waste, Zero Excuse. Nggak ada alasan untuk tidak memulai dari sekarang.
Sampah yang Sering Terlupakan dalam Perubahan Iklim
Banyak mengira perubahan iklim hanya soal asap pabrik atau kendaraan bermotor. Padahal, sampah juga penyumbang emisi gas rumah kaca yang signifikan. Fakta dan Data yang perlu kita tahu:
- Sampah makanan merupakan sebuah komponen terbesar dari timbulan sampah nasional. Jika tidak dikelola dengan baik, maka butuh biaya besar, mengurangi limbah bisa dilakukan siapa saja, sisa makanan di TPA akan menghasilkan gas metana, yang 28 kali lebih kuat menahan panas daripada karbon dioksida.
- Produksi dan pembakaran sampah plastik yang menyumbang 3,4% emisi global, dan angka ini diprediksi terus naik hingga 2050.
- Tempat pembuangan akhir (TPA) sampah bisa menghasilkan gas metana yang berkontribusi pada pemanasan global.
- Konsep "zero waste lifestyle" akan menekankan pada prinsip 5R: refuse (menolak), reduce (mengurangi), reuse (menggunakan kembali), recycle (mendaur ulang), dan rot (mengompos).
Zero Waste Bukan Sekadar Gaya Hidup
Bagi saya, zero waste ini bukan sekadar tren “hijau” yang populer masa ini. Tetapi Ini soal tanggung jawab. Setiap kali menolak kantong plastik atau membawa botol minum, saya merasa memberi “suara” kecil untuk bumi kita ini. Memang, aksi individu tidak cukup. Tapi bayangkan jika jutaan orang melakukannya. Dampaknya luar biasa. Seperti yang dikatakan aktivis lingkungan: “Kita tidak butuh
segelintir orang melakukan zero waste dengan sempurna. Kita butuh jutaan orang melakukannya dengan tidak sempurna.”
Langkah Sederhana yang Bisa Dimulai Hari Ini
3 Langkah :
- Bawa tas belanja sendiri saat ke pasar/supermarket.
- Gunakan botol minum isi ulang. Satu botol plastik butuh 450 tahun untuk terurai.
- Bawa tumbler untuk kopi. Kedai kopi biasanya memberi diskon kalau kamu bawa tumbler sendiri.
Mengenal Prinsip 5R
Refuse (Menolak) - Tolak apa yang tidak kamu butuhkan
Reduce (Mengurangi) - Kurangi apa yang kamu butuhkan
Reuse (Menggunakan Kembali) - Gunakan kembali apa yang kamu miliki
Recycle (Mendaur Ulang)- Daur ulang apa yang tidak bisa ditolak, dikurangi, atau digunakan kembali
Rot (Mengompos) - Komposkan sisa organik untuk mengembalikan nutrisi ke tanah
Ketika Kebiasaan Kecil Mulai Memberi Dampak
Di beberapa kota, gerakan pengurangan limbah menunjukkan hasil. Komunitas “zero waste lifestyle” mengajak masyarakat mengadopsi 5 prinsip tersebut, hasilnya yaitu:
Sampah organik yang biasanya membusuk di TPA kini jadi kompos.
Emisi gas rumah kaca dari TPA berkurang.
Konservasi Alam dan Lingkungan Indonesia Raya (KALIRA) aktif mengajak masyarakat mengadopsi zero waste lifestyle untuk mengatasi krisis sampah.
“Tapi Kan Ribet!”: Tantangan Memulai Zero Waste
“Tapi kan ribet!”
Iya, awalnya. Tapi setelah jadi kebiasaan, justru lebih praktis. Kamu nggak perlu repot nyari tempat sampah atau bingung mau buat apa.
“Mahal nggak sih?”
Justru sebaliknya!. Dalam jangka panjang, kamu malah hemat.
Kalau Cuma Saya, Apa Gunanya?
''Apa gunanya kalau cuma saya?” Bayangkan jika 10 orang temanmu melihat dan ikut melakukannya. Lalu 10 teman mereka juga ikut.
Mulai Sekarang, Zero Excuse!
Kecil? Ya. Tapi dampaknya besar.
Referensi
- Pietzsch, N., Ribeiro, J. L. D., & Medeiros, J. F. de. 2017. Benefits, challenges and critical factors of success for Zero Waste: A systematic literature review. Waste Management. ScienceDirect.
- Awasthi, A. K., Cheela, V. R. S., D’Adamo, I., Iacovidou, E., Islam, M. R., Johnson, M., Miller, T. R., Parajuly, K., Parchomenko, A., Radhakrishan, L., Zhao, M., Zhang, C., & Li, J. 2021. Zero waste approach towards a sustainable waste management. Resources, Environment and Sustainability. ScienceDirect.
- Sapanli, K., Putro, F. A. D., Arifin, S. D., Putra, A. H., Andamari, H. A., & Anggraini, U. 2023. Pengelolaan Sampah Rumah Tangga Berbasis Circular Economy di Tingkat Desa: Pendekatan Sistem Dinamik. Jurnal Wilayah dan Lingkungan, 11(2), 141–155. Ejournal UNDIP.
- Kurniawan, T. A., Avtar, R., Singh, D., Xue, W., Othman, M. H. D., Hwang, G. H., et al. 2021. Reforming MSWM in Sukunan (Yogyakarta, Indonesia): A case-study of applying a zero-waste approach based on circular economy paradigm. Journal of Cleaner Production, 284, 124775.