Kalah Pamor dari Plastik: Inilah Bahaya Sampah Organik dan Solusi Pengelolaannya
Kenapa akhir-akhir ini udara terasa makin panas, dan apa hubungannya dengan sampah di rumah? Yuk, kenali bagaimana sampah organik dapat menghasilkan gas metana serta cara sederhana mengolahnya menjadi kompos untuk membantu mengurangi dampak perubahan iklim.
Difavoritkan 0 orangDibagikan 0 kali
Masuk sebagai siswa untuk menyimpan progres belajarmu dan mengumpulkan badge.
Kenapa Bumi Terasa Makin Panas?
Kalian sadar nggak sih, beberapa waktu belakangan ini hawa terasa panas banget? Yang kalian rasain itu adalah salah satu bentuk nyata dari perubahan iklim. Rasanya seperti bumi kita sedang dipakaikan jaket tebal yang ngga bisa dilepas, sehingga udaranya makin pengap dan gerah. Ini bukan sekadar perasaan kalian. Suhu panas ini memang benar adanya. Menurut lembaga NOAA Amerika Serikat, bulan Januari 2026 adalah bulan Januari terpanas kelima sejak pencatatan pertama dilakukan, yaitu pada 1850. Apa itu NOAA? NOAA adalah singkatan dari National Oceanic and Atmospheric Administration. Tugasnya adalah memonitor cuaca dan iklim, mirip dengan BMKG di Indonesia.
Sebenarnya, tindakan kita sehari-hari di rumah itu bisa berdampak terhadap perubahan iklim juga, baik itu dampak buruk kalau kita ceroboh, maupun dampak baik kalau kita peduli. Karena itu, tindakan untuk menyelamatkan Bumi dari perubahan iklim bisa kalian mulai dari rumah juga, loh!
Sampah Rumah Tangga dan Perubahan Iklim
Salah satu contoh yang paling mudah adalah mengelola sampah rumah tangga. Menurut SIPSN Kementerian Lingkungan Hidup, rumah tangga menghasilkan 51,38% dari jumlah keseluruhan sampah nasional. Itu adalah persentase terbesar dibandingkan dengan jenis-jenis sampah yang lain. Sampah rumah tangga yang dimaksud termasuk limbah dapur yang biasanya didominasi oleh limbah organik seperti sisa-sisa makanan. Oh iya, sekadar informasi, kalian bisa mencari informasi terkait data sampah nasional melalui SIPSN atau Sistem Informasi Pengelolaan Sampah Nasional yang dikelola oleh Kementerian Lingkungan Hidup.
Mungkin kalian sering mendengar tentang masalah sampah plastik, tapi kalian pasti jarang mendengar orang yang membahas bahaya sampah organik seperti sisa makanan tadi. Kalau ngelewatin tempat sampah, kalian pasti sering mencium aroma-aroma ngga sedap, kan? Nah, aroma-aroma itu biasanya berasal dari sampah organik. Ngga cuma baunya, tapi gas yang dilepas oleh sampah organik juga sama bahayanya. Sampah organik itu melepaskan berbagai macam gas, salah satunya adalah gas metana. Kenapa bahaya? Karena gas metana itu termasuk salah satu gas rumah kaca yang jadi penyebab pemanasan global. U.S. Environmental Protection Agency menyebut gas ini mampu menahan panas matahari di atmosfer 28 kali lebih kuat daripada gas karbon dioksida.
Selain itu, gas metana juga sangat mudah terbakar. Bahkan bisa memicu ledakan jika terperangkap di bawah tumpukan sampah yang menggunung! Dilansir dari CNBC Indonesia (2026), dulu di Cimahi pernah ada kejadian tempat pembuangan akhir sampah meledak dan menyebabkan 157 orang meninggal! Segitu bahayanya gas metana. Sangat disayangkan ketika mengetahui sampah dapur ini dibuang begitu saja dan tidak dikelola dengan baik. Padahal sampah organik ini sebenarnya bisa kita gunakan kembali untuk menyuburkan tanaman.
Mengubah Sampah Menjadi Kompos
Untuk mengurangi emisi gas metana, kalian bisa memilih dan memilah sampah yang ada di rumah kalian. Sampah dapur, sisa-sisa makanan, hingga daun tanaman yang gugur bisa kita kumpulkan secara terpisah agar tidak membusuk percuma di tempat sampah. Nantinya sampah organik ini akan kita olah menjadi pupuk kompos! Kalian tau ap aitu kompos? Menurut Direktorat Jenderal Perkebunan Kementerian Pertanian Republik Indonesia, kompos adalah senyawa organik yang telah membusuk yang digunakan untuk memperbaiki struktur tanah dan memberikan nutrient pada tanaman.
Membuat Compost Pit di Rumah
Salah satu cara paling seru dan paling gampang untuk membuat pupuk kompos adalah dengan metode compost pit alias lubang kompos. Compost pit ini sangat mudah dipraktikkan. Kalian cuma perlu menggali lubang di halaman rumah, Kalau mengikuti saran dari Food and Agriculture Organization, kedalaman lubang yang diperlukan itu sekitar 1 sampai 1,5 meter.
Kemudian, kalian bisa memasukkan sampah organik yang terkumpul di rumah kalian ke dalam lubang, lalu mencampurkannya dengan sedikit kompos. Kalau kalian tidak punya, komposnya boleh diganti dengan tanah. Ini berguna untuk menghadirkan mikroba ke sampah organik kalian. Jangan lupa taburkan sedikit tanah atau dedaunan kering di atasnya agar tidak bau dan tidak dikerubungi lalat ataupun hewan lain. Setelah itu, biarkan tumpukan ini selama 6-12 bulan. Voila! Kompos yang bisa kalian gunakan untuk tanaman kalian
Jadi Pahlawan Cilik untuk Bumi
Keren banget, kan? Hanya bermodalkan lubang kecil di halaman, kita ngga cuma bikin kebun jadi hijau dan subur, tapi juga ikut jadi pahlawan cilik yang mengerem laju pemanasan global!
Referensi
- Fakhriansyah, M. 2026. Gunung Sampah Meledak, Longsor Bak Tsunami Gulung Manusia: 157 Tewas. CNBC Indonesia. Diakses pada 18/09/2026. https://www.cnbcindonesia.com/entrepreneur/20260221124356-25-712690/gunung-sampah-meledak-longsor-bak-tsunami-gulung-manusia-157-tewas
- Food and Agriculture Organization. 2026. Climate-Smart Agriculture Practice Catalogue: Composting. FAO. Diakses pada 18/09/2026. https://www.fao.org/4/y5104e/y5104e05.htm
- Kementerian Lingkungan Hidup. 2026. Sistem Informasi Pengelolaan Sampah Nasional (SIPSN). SIPSN KemenLH. Diakses pada 18/09/2026. https://sampahnasional.kemenlh.go.id/
- National Centers for Environmental Information. 2026. Monthly Climate Report - Global Climate Report: January 2026. NCEI NOAA. Diakses pada 18/09/2026. https://www.ncei.noaa.gov/access/monitoring/monthly-report/global/202601
- Sardjono, N. S. & Siagian, R. 2021. Jenis-Jenis Metode Pembuatan Kompos. Direktorat Jenderal Perkebunan Kementerian Pertanian. Diakses pada 18/09/2026. https://ditjenbun.pertanian.go.id/jenis-jenis-metode-pembuatan-kompos/
- United States Environmental Protection Agency. 2024. Basic Information about Landfill Gas. US EPA. Diakses pada 18/09/2026. https://www.epa.gov/lmop/basic-information-about-landfill-gas