APIFAClimate Resilience Hub
Artikel Bencana IklimSMPBahasa Indonesia

Saat Iklim Berubah, Anak Perlu Tahu Harus Apa?

Pentingnya kesiapsiagaan anak dalam menghadapi perubahan kondisi cuaca dan risiko bencana terkait iklim. Pembahasan mencakup pemanfaatan informasi peringatan dini, tindakan sebelum dan saat cuaca ekstrem, simulasi kesiapsiagaan di sekolah, serta pentingnya memeriksa informasi melalui sumber resmi.

Apifa OfficialTerbit 1 Oktober 20264 menit baca
Favoritkan

Difavoritkan 0 orangDibagikan 0 kali

Masuk sebagai siswa untuk menyimpan progres belajarmu dan mengumpulkan badge.

Saat Iklim Berubah, Anak Perlu Tahu Harus Apa?

Pagi hari, langit terlihat biasa saja. Seragam sudah rapi, tas sudah di punggung. Namun, ketika jam pulang sekolah mendekat, hujan deras tiba-tiba turun. Jalan yang biasanya dilewati mulai tergenang. Orang tua meminta anak menunggu, guru mengingatkan siswa untuk tetap berada di tempat aman, sementara informasi cuaca terus muncul di ponsel.

Kejadian seperti itu mungkin terasa biasa. Bagi anak, perubahan kondisi cuaca bisa membuat perjalanan sekolah terganggu. Kegiatan di luar ruangan dihentikan, bahkan membuat mereka bingung harus mengambil keputusan seperti apa.

Karena itu, anak perlu mengenal risiko di sekitarnya dan memahami langkah yang dapat dilakukan ketika kondisi cuaca berubah. Kebiasaan sederhana seperti mengecek informasi cuaca dan mengikuti peringatan dini dapat menjadi bagian dari kesiapsiagaan menghadapi dampak perubahan iklim.

UNICEF menempatkan Indonesia pada peringkat ke-46 dari 163 negara dalam Children’s Climate Risk Index. Kondisi iklim berisiko memengaruhi kehidupan anak, termasuk kesehatan, pendidikan, air dan sanitasi, pangan, serta perlindungan anak. UNICEF juga mencatat lebih dari 50.000 sekolah di Indonesia terdampak bencana terkait iklim sepanjang 2009–2018.

Kondisi tersebut terasa dekat dengan kehidupan masyarakat Banten. Berdasarkan Indeks Risiko Bencana Indonesia (IRBI) 2025, Provinsi Banten memiliki indeks risiko sebesar 103,58 dan berada pada kelas risiko sedang. BNPB juga mencatat banjir dan cuaca ekstrem sebagai bencana yang paling banyak terjadi di Banten pada 2025.

Data tersebut menunjukkan bahwa kesiapsiagaan perlu dikenalkan sejak usia sekolah. Anak perlu mengetahui informasi yang berkaitan dengan keselamatan dirinya dan memahami tindakan yang tepat ketika menghadapi kondisi darurat.

Dari Peringatan Menjadi Tindakan

Menurut saya, aksi dini bencana dapat dimulai dari satu kebiasaan sederhana: tahu kapan harus bertindak.

BMKG menyediakan informasi peringatan dini cuaca mengenai potensi hujan sedang hingga lebat yang dapat disertai petir dan angin kencang. BMKG juga menggunakan sistem nowcasting untuk memberikan gambaran kondisi cuaca saat ini dan prakiraan cuaca ekstrem dalam rentang waktu 0–6 jam.

Informasi tersebut bisa dimanfaatkan dalam kehidupan sehari-hari. Sebelum berangkat ke sekolah, anak dapat mengecek kondisi cuaca bersama orang tua. Jika terdapat peringatan cuaca ekstrem, kegiatan di luar ruangan dapat ditunda dan perjalanan dapat disesuaikan dengan kondisi serta arahan orang dewasa.

Saat berada di sekolah, siswa dapat mengikuti arahan guru, mengetahui lokasi yang aman, mengenali jalur evakuasi, dan mengetahui titik kumpul. Ketika kondisi mulai memburuk, siswa perlu tetap tenang dan mengikuti informasi dari pihak yang bertanggung jawab.

Langkah-langkah tersebut sederhana. Kebiasaan ini dapat dilatih sejak sekarang agar anak lebih siap ketika menghadapi kondisi yang tidak terduga.

Sekolah sebagai Tempat Belajar Kesiapsiagaan

Kesiapsiagaan akan lebih mudah dipahami ketika siswa mendapat kesempatan untuk mempraktikkannya. Sekolah dapat membuat simulasi yang dekat dengan kondisi sehari-hari.

Contohnya, sekolah membuat skenario hujan ekstrem ketika kegiatan belajar sedang berlangsung. Siswa belajar menerima informasi, tetap berada di tempat aman, mengikuti arahan guru, mengenali jalur evakuasi, dan menuju titik kumpul jika diperlukan.

Simulasi dapat dilakukan secara berkala dengan skenario yang berbeda. Dengan begitu, siswa memiliki pengalaman untuk menghadapi perubahan situasi tanpa menunggu bencana benar-benar terjadi.

Kebiasaan tersebut dapat dilakukan di rumah. Orang tua dapat mengajak anak menentukan tempat yang aman, menyimpan nomor kontak penting, dan membicarakan siapa yang harus dihubungi ketika terjadi keadaan darurat.

Ada satu hal yang penting, yaitu kemampuan menyaring informasi. Ketika bencana terjadi, informasi dapat menyebar dengan cepat melalui media sosial dan grup percakapan. Anak perlu membiasakan diri memeriksa kembali informasi melalui sumber resmi seperti BMKG, BNPB, BPBD, sekolah, atau pemerintah daerah sebelum mempercayai dan membagikannya.

Perubahan iklim sering terdengar seperti persoalan yang besar dan jauh dari kehidupan anak. Padahal, dampaknya dapat muncul dalam aktivitas sehari-hari. Hujan deras bisa membuat perjalanan sekolah terganggu. Cuaca ekstrem bisa membuat kegiatan di luar ruangan dihentikan. Bencana juga dapat mengganggu proses belajar.

Kita tidak dapat menentukan kapan hujan deras datang. Kita dapat mempersiapkan diri ketika peringatan muncul.

Anak perlu mendapatkan pengetahuan, kesempatan untuk berlatih, dan arahan yang jelas. Kesiapsiagaan dapat dimulai dari hal-hal kecil yang dilakukan secara rutin.

Jadi, ketika langit berubah dan peringatan muncul di layar ponsel, pertanyaannya bukan sekadar, β€œHujan nggak, ya?”

Pertanyaan yang perlu dijawab adalah, β€œKalau keadaan berubah, aku harus melakukan apa?”

Daftar Sumber

  • Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika. 2026. Peringatan Dini Cuaca. BMKG.
  • Badan Nasional Penanggulangan Bencana. 2026. Indeks Risiko Bencana Indonesia (IRBI) 2025: Provinsi Banten. BNPB.
  • Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan Republik Indonesia & UNICEF Indonesia. 2024. Analisis Lanskap Iklim untuk Anak-anak di Indonesia. UNICEF Indonesia.
  • UNICEF Indonesia. 2025. Melakukan Aksi Iklim untuk Anak-anak Indonesia. UNICEF Indonesia.
#perubahan iklim#kesiapsiagaan bencana#anak#cuaca ekstrem#peringatan dini#literasi informasi

Konten lain pada kategori ini

Lanjutkan belajar dengan bahan yang masih satu kategori.

4 menit baca
Artikel Bencana IklimID

Tas Siaga Bencana ala Anak Iklim: Siap Sebelum Bencana Datang

Tas siaga bencana menjadi langkah sederhana yang dapat dilakukan anak dan keluarga untuk menghadapi bencana hidrometeorologi. Kenali isi tas siaga, informasi peringatan dini, dan aksi sederhana yang bisa dilakukan bersama keluarga.

Oleh Apifa Official

Baca Artikel
5 menit baca
Artikel Bencana IklimID

Langkah Kecil Hari Ini, Perlindungan untuk Esok Hari

Apa yang bisa kita lakukan sebelum sumur benar-benar kering saat musim kemarau? Yuk, kenali pentingnya aksi dini menghadapi kekeringan melalui kebiasaan sederhana seperti menghemat air, memanen air hujan, dan menanam pohon dari rumah.

Oleh Apifa Official

Baca Artikel