APIFAClimate Resilience Hub
Artikel Bencana IklimSMA/SMKBahasa Indonesia

Langkah Kecil Hari Ini, Perlindungan untuk Esok Hari

Apa yang bisa kita lakukan sebelum sumur benar-benar kering saat musim kemarau? Yuk, kenali pentingnya aksi dini menghadapi kekeringan melalui kebiasaan sederhana seperti menghemat air, memanen air hujan, dan menanam pohon dari rumah.

Apifa OfficialTerbit 1 Oktober 20265 menit baca
Favoritkan

Difavoritkan 0 orangDibagikan 0 kali

Masuk sebagai siswa untuk menyimpan progres belajarmu dan mengumpulkan badge.

Penulis: Orville Muhamad Nadan

Ketika Sumur Tiba-Tiba Kering

Musim kemarau tahun ini terasa berbeda di rumah saya. Sumur yang biasanya selalu ada airnya, tiba-tiba kering. Beberapa hari berturut-turut saya harus bolak-balik mengambil air dari masjid dekat rumah, hanya untuk kebutuhan mandi dan memasak sehari-hari. Awalnya saya pikir ini cuma kebetulan, semacam musim kemarau yang kebetulan lebih panjang dari biasanya. Tapi setelah saya cari tahu, ternyata ini bukan kejadian sesaat. Ini bagian dari pola yang lebih besar, dan kalau kita tidak bersiap sejak awal, kejadian seperti ini akan terus berulang, bahkan mungkin lebih parah di tahun-tahun berikutnya.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat bahwa hingga akhir Maret 2026, sekitar 7 persen zona musim di Indonesia sudah memasuki musim kemarau, dan jumlah ini terus bertambah setiap bulannya (Herlambang, 2026).

Peta sebaran zona musim kemarau (coklat) dan musim hujan (hijau) di Indonesia, update Dasarian III Maret 2026. Sumber: BMKG, 2026

Ketika Kemarau Diperkirakan Lebih Kering

BMKG juga memprediksi musim kemarau tahun ini akan datang lebih kering dan berlangsung lebih panjang dibandingkan kondisi normal, dipengaruhi oleh dinamika iklim global serta potensi munculnya fenomena El Nino pada paruh kedua tahun ini (Herlambang, 2026). Artinya, kekeringan yang saya alami di rumah bukan sekadar nasib buruk atau kejadian kebetulan, melainkan sinyal dari perubahan iklim yang harus direspons lebih serius, bukan cuma ditunggu sampai air benar-benar habis baru kita panik mencari solusi.

Prediksi Sifat Musim Kemarau 2026 di Indonesia. Sumber: BMKG, 2026

Aksi Dini Sebelum Kekeringan Datang

Di sinilah pentingnya konsep aksi dini bencana. Menurut Peraturan Badan Nasional Penanggulangan Bencana, aksi merespon peringatan dini adalah serangkaian tindakan yang dilakukan pemerintah maupun masyarakat untuk mengantisipasi dampak dan mengurangi kerugian akibat bencana, berdasarkan prakiraan dan deteksi dini potensi bencana (BNPB, 2024). Kepala BNPB Suharyanto juga menegaskan bahwa kesadaran masyarakat untuk memantau perubahan cuaca sangat penting, karena respons individu diperlukan agar aksi dini bisa dilakukan sebelum bencana benar-benar terjadi (Media Indonesia, 2023).

Dengan kata lain, aksi dini bukan cuma tugas pemerintah atau BMKG, tapi juga tugas kita di rumah masing-masing, sekecil apapun peran itu kelihatannya.

Belajar dari Sumur yang Kering

Setelah mengalami sendiri sumur yang kering, saya baru sadar betapa borosnya kebiasaan saya selama ini, padahal saya sendiri tidak pernah merasa melakukan sesuatu yang salah. Saat mandi, saya sering menyiram badan berkali-kali di setiap tahap, padahal bisa ditampung dulu dan disiram sekaligus di akhir. Charger HP juga sering saya biarkan tercolok di stop kontak meski tidak dipakai, dan AC kadang menyala semalaman tanpa saya matikan karena saya ketiduran. Kebiasaan-kebiasaan kecil ini memang tidak langsung menyebabkan sumur di rumah saya kering, tapi menunjukkan bagaimana saya selama ini belum benar-benar siap dan sadar menghadapi musim kemarau yang makin tidak menentu setiap tahunnya.

Memanen Air Hujan dari Rumah

Salah satu aksi dini yang bisa dilakukan dari rumah adalah memanen air hujan. Asisten Deputi Pengurangan Risiko Bencana Kemenko PMK, Andre Notohamijoyo, mendorong gerakan panen air hujan sebagai solusi mengatasi kelangkaan air di wilayah rawan kekeringan, sekaligus mendorong kemandirian masyarakat dalam mengelola sumber daya air (Kemenko PMK, 2025). Cara ini sebenarnya sederhana dan tidak butuh biaya besar, air hujan yang jatuh dari atap ditampung dalam tandon, ember besar, atau galon bekas saat musim hujan, supaya bisa dipakai ketika kemarau datang, sebagai bentuk mitigasi bencana hidrometeorologi seperti kekeringan (Mongabay, 2023).

Menanam Pohon untuk Menghadapi Panas

Selain menampung air hujan, saya juga mulai menanam pohon mangga, bunga matahari, dan tanaman rambat di halaman rumah saya yang cuma satu lantai. Tanaman rambat itu saya pasang di bagian rumah yang paling sering kena matahari langsung, supaya panas tidak langsung masuk ke dalam rumah. Meski kadang rusak kalau kena hujan angin deras dan harus saya perbaiki lagi, tanaman-tanaman ini cukup membantu rumah terasa lebih sejuk, sekaligus jadi bentuk kesiapan sederhana menghadapi cuaca yang makin ekstrem dari tahun ke tahun.

Mulai Bersiap dari Rumah

Kekeringan yang saya alami mengajarkan saya satu hal penting, bahwa aksi dini itu bukan soal menunggu bencana datang baru bertindak, tapi soal mempersiapkan diri sejak jauh-jauh hari, bahkan dari hal sekecil menampung air hujan atau menanam satu pohon di halaman rumah. Kita tidak perlu menunggu jadi ahli iklim atau petugas BPBD untuk mulai peduli, cukup dari rumah sendiri, dari kebiasaan sehari-hari yang selama ini mungkin kita anggap sepele. Kalau setiap keluarga mulai melakukan langkah kecil ini sejak sekarang, saat musim kemarau berikutnya datang, kita tidak perlu lagi bolak-balik mengambil air ke masjid karena sumur di rumah sudah kering duluan.

Referensi

  • Herlambang, D. 2026. Perkembangan Musim Kemarau dan Prediksi El Nino Tahun 2026: Kemarau Lebih Kering dan Panjang, BMKG Tekankan Pentingnya Antisipasi. BMKG. Diakses pada 15/09/2026. [https://www.bmkg.go.id/berita/perkembangan-musim-kemarau-dan-prediksi-el-nino-tahun-2026-kemarau-lebih-kering-dan-panjang-bmkg-tekankan-pentingnya-antisipasi](https://www.bmkg.go.id/berita/perkembangan-musim-kemarau-dan-prediksi-el-nino-tahun-2026-kemarau-lebih-kering-dan-panjang-bmkg-tekankan-pentingnya-antisipasi)
  • BNPB. 2024. Peraturan Badan Nasional Penanggulangan Bencana tentang Sistem Peringatan Dini Bencana. BNPB. Diakses pada 16/09/2026. [https://api-law.crpg.info/peraturan/perban/2/2024/pasal/1](https://api-law.crpg.info/peraturan/perban/2/2024/pasal/1)
  • Media Indonesia. 2023. BNPB Sudah Siapkan Langkah Kesiapsiagaan Bencana Periode Musim Basah. Media Indonesia. Diakses pada 16/09/2026. [https://www.metrotvnews.com/read/KZmCdwlp-bnpb-sudah-siapkan-langkah-kesiapsiagaan-bencana-periode-musim-basah](https://www.metrotvnews.com/read/KZmCdwlp-bnpb-sudah-siapkan-langkah-kesiapsiagaan-bencana-periode-musim-basah)
  • Kemenko PMK. 2025. Panen Air Hujan Jadi Solusi Inovatif Atasi Krisis Air di Wilayah Rawan Kekeringan. Kemenko PMK. Diakses pada 17/09/2026. [https://kemenkopmk.go.id/index.php/node/5610](https://kemenkopmk.go.id/index.php/node/5610)
  • Mongabay. 2023. Memanen Air Hujan untuk Hadapi Kemarau, Mengapa Tidak? Mongabay Indonesia. Diakses pada 17/09/2026. [https://mongabay.co.id/2023/06/19/memanen-air-hujan-untuk-hadapi-kemarau-mengapa-tidak/](https://mongabay.co.id/2023/06/19/memanen-air-hujan-untuk-hadapi-kemarau-mengapa-tidak/)
  • BMKG. 2026. Prediksi Musim Kemarau Tahun 2026 di Indonesia. BMKG. Diakses pada 18/09/2026. [https://www.bmkg.go.id/iklim/prediksi-musim/prediksi-musim-kemarau-tahun-2026-di-indonesia](https://www.bmkg.go.id/iklim/prediksi-musim/prediksi-musim-kemarau-tahun-2026-di-indonesia)
#kekeringan#musim kemarau#aksi dini#mitigasi bencana#perubahan iklim#El Niรฑo

Konten lain pada kategori ini

Lanjutkan belajar dengan bahan yang masih satu kategori.

4 menit baca
Artikel Bencana IklimID

Tas Siaga Bencana ala Anak Iklim: Siap Sebelum Bencana Datang

Tas siaga bencana menjadi langkah sederhana yang dapat dilakukan anak dan keluarga untuk menghadapi bencana hidrometeorologi. Kenali isi tas siaga, informasi peringatan dini, dan aksi sederhana yang bisa dilakukan bersama keluarga.

Oleh Apifa Official

Baca Artikel
4 menit baca
Artikel Bencana IklimID

Saat Iklim Berubah, Anak Perlu Tahu Harus Apa?

Pentingnya kesiapsiagaan anak dalam menghadapi perubahan kondisi cuaca dan risiko bencana terkait iklim. Pembahasan mencakup pemanfaatan informasi peringatan dini, tindakan sebelum dan saat cuaca ekstrem, simulasi kesiapsiagaan di sekolah, serta pentingnya memeriksa informasi melalui sumber resmi.

Oleh Apifa Official

Baca Artikel