APIFAClimate Resilience Hub
Artikel Bencana IklimSMPBahasa Indonesia

Ketika Hujan Datang Lebih Cepat: Anak Indonesia dan Pentingnya Aksi Dini Bencana

Bagaimana anak-anak bisa lebih siap menghadapi bencana akibat cuaca ekstrem? Kenali pentingnya aksi dini, mulai dari memahami peringatan cuaca hingga menyiapkan langkah evakuasi bersama keluarga dan sekolah.

Apifa OfficialTerbit 1 Oktober 20264 menit baca
Favoritkan

Difavoritkan 0 orangDibagikan 0 kali

Masuk sebagai siswa untuk menyimpan progres belajarmu dan mengumpulkan badge.

Ketika Bencana Datang Lebih Sering

Musim hujan akhir 2024 melenceng jauh dari pola tahun-tahun sebelumnya: banjir bandang menerjang Sumatera Barat, longsor merenggut puluhan nyawa di Jawa Tengah, dan cuaca ekstrem menghantam hampir semua provinsi dalam rentang waktu yang berdekatan. Badan Nasional Penanggulangan Bencana mencatat 2.107 kejadian bencana sepanjang tahun itu, dengan 98,86 persen di antaranya berupa bencana hidrometeorologi seperti banjir, longsor, dan angin kencang (Litha, 2025). Angka itu berbicara jelas: perubahan iklim bukan lagi ancaman yang menunggu di masa depan, melainkan sesuatu yang sudah menetap di halaman rumah, di jalan menuju sekolah, bahkan di ruang kelas anak-anak Indonesia hari ini.

Anak-Anak dan Risiko Bencana

Ketika bencana datang, anak-anaklah yang menanggung beban paling berat. Laporan Children's Climate Risk Index yang disusun UNICEF bersama Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan menempatkan Indonesia di peringkat 46 dari 163 negara untuk kerentanan anak terhadap dampak perubahan iklim (Indonesia, 2024); sekitar 28 juta anak terpapar risiko banjir rob, dan 15 juta lainnya rentan terhadap gelombang panas. Tubuh anak memang belum sekuat orang dewasa menahan tekanan fisik akibat bencana, tapi ada sisi yang lebih sering luput dari perhatian: trauma psikologis pasca bencana, yang bisa bertahan bertahun-tahun dan ikut membentuk cara anak belajar serta bergaul di kemudian hari.

Ketika Informasi Belum Menjadi Tindakan

Fakta-fakta itu memunculkan satu pertanyaan: mengapa Indonesia, yang menghadapi bencana serupa hampir tiap tahun, masih sering kewalahan saat bencana benar-benar datang? Jawabannya jarang soal kurangnya informasi cuaca, sebab BMKG rutin mengeluarkan peringatan dini beberapa hari sebelum cuaca ekstrem terjadi. Masalahnya ada di kesiapan rumah tangga dan sekolah: banyak keluarga baru bergerak setelah air mulai naik, bukan sejak peringatan pertama muncul. Kesenjangan antara informasi dan tindakan inilah yang mesti ditutup, dan anak-anak semestinya dilibatkan sebagai bagian dari solusi, bukan sekadar diposisikan sebagai korban yang menunggu pertolongan.

Anak-Anak sebagai Bagian dari Solusi

Aksi dini bisa dimulai dari langkah-langkah sederhana yang melibatkan anak secara langsung. Di sekolah, simulasi evakuasi rutin dan pengenalan tanda bahaya banjir atau longsor semestinya jadi bagian dari kegiatan belajar sehari-hari, bukan acara tahunan yang sekadar formalitas. Peneliti Pusat Riset Kebencanaan Geologi BRIN menyebut tiga pilar pendidikan tangguh bencana: fasilitas sekolah yang aman, manajemen bencana di sekolah, dan pendidikan pencegahan risiko (Purwanto, 2025). Di rumah, orang tua bisa mengajak anak menyusun rencana evakuasi keluarga, menentukan titik kumpul, dan mengenali aplikasi peringatan dini dari BMKG maupun BNPB, atau sekadar menyiapkan tas siaga berisi obat, senter, dan dokumen penting sambil menjelaskan alasannya satu per satu. Begitu anak paham apa yang harus dilakukan sebelum bencana tiba, rasa takut pelan-pelan berubah jadi kesiapan.

Mulai Bersiap Sebelum Hujan Berikutnya

Perubahan iklim memang menghadirkan tantangan yang tidak ringan, tapi itu bukan alasan untuk cuma menunggu dan berharap yang terbaik. Aksi dini adalah bentuk nyata adaptasi, dan bisa dimulai dari unit terkecil: keluarga dan sekolah. Simulasi evakuasi yang diikuti, tas siaga yang disiapkan, keduanya investasi untuk masa depan anak-anak Indonesia. Mulai dari rumah masing-masing, sebelum hujan berikutnya turun.

Referensi

  • Aditya, R. (2024, Desember Sabtu, 21). bmkg.go.id. Diambil kembali dari www.bmkg.go.id: https://www.bmkg.go.id/siaran pers/rakor-bencana-hidrometeorologi-bmkg-sebut-musim-hujan tahun-ini-berbeda
  • Indonesia, U. (2024, Agustus Kamis, 8). www.unicef.org. Diambil kembali dari www.unicef.org: https://www.unicef.org/indonesia/climate/press-releases/first-ever-climate-report-unicef-and-government-indonesia calls-urgent-action
  • IPCC. (2023). Climate Change 2023: Synthesis Report. IPCC. Diakses pada 15/09/2026. Geneva, Switzerland: IPCC.
  • Litha, Y. (2025, Januari Sabtu, 11). www.voaindonesia.com. Diambil kembali dari www.voaindonesia.com: https://www.voaindonesia.com/a/bnpb-489-orang-tewas-dalam-2-107-bencana-sepanjang-2024/7933140.html
  • Purwanto, B. (2025, Februari Selasa, 11). tempo. Diambil kembali dari www.tempo.co: https://www.tempo.co/lingkungan/ada 1-889-bencana-di-indonesia-sepanjang-2024-bencana-hidrometeorologi-mendominasi-1205480
#cuaca ektrem#bencana#kesiapsiagaan#aksi dini#perubahan iklim#evakuasi

Konten lain pada kategori ini

Lanjutkan belajar dengan bahan yang masih satu kategori.

4 menit baca
Artikel Bencana IklimID

Tas Siaga Bencana ala Anak Iklim: Siap Sebelum Bencana Datang

Tas siaga bencana menjadi langkah sederhana yang dapat dilakukan anak dan keluarga untuk menghadapi bencana hidrometeorologi. Kenali isi tas siaga, informasi peringatan dini, dan aksi sederhana yang bisa dilakukan bersama keluarga.

Oleh Apifa Official

Baca Artikel
5 menit baca
Artikel Bencana IklimID

Langkah Kecil Hari Ini, Perlindungan untuk Esok Hari

Apa yang bisa kita lakukan sebelum sumur benar-benar kering saat musim kemarau? Yuk, kenali pentingnya aksi dini menghadapi kekeringan melalui kebiasaan sederhana seperti menghemat air, memanen air hujan, dan menanam pohon dari rumah.

Oleh Apifa Official

Baca Artikel