Harga Mahal Sebuah Kepraktisan: Ancaman Nyata Sampah Daring bagi Napas Generasi Belia
Belanja daring memang praktis, tetapi kemasan yang digunakan dapat menambah timbulan sampah. Kenali dampaknya bagi lingkungan dan kesehatan, serta langkah sederhana yang dapat dilakukan untuk mengurangi sampah kemasan dari aktivitas belanja daring.
Difavoritkan 0 orangDibagikan 0 kali
Masuk sebagai siswa untuk menyimpan progres belajarmu dan mengumpulkan badge.
Harga Mahal Sebuah Kepraktisan
Belanja digital kini telah menjadi bagian dari kebiasaan sehari-hari. Kepraktisan memilih barang dari layar telepon pintar lalu menunggunya tiba di rumah sungguh terasa menyenangkan. Terlebih semenjak adanya pembatasan bepergian beberapa waktu lalu, jumlah transaksi elektronik di Indonesia meningkat pesat. Berbagai toko daring menawarkan kemudahan bertransaksi tanpa harus keluar rumah. Sayangnya, terdapat akibat tersembunyi yang harus dibayar dari kenyamanan tersebut. Di balik pesanan yang diantar dengan sangat rapi, terdapat persoalan besar bernama limbah kemasan.
Dari Paket Menjadi Sampah
Penggunaan pelindung barang seperti plastik gelembung bertujuan menjaga produk tetap aman selama proses pengiriman. Namun, bahan pembungkus tersebut berasal dari olahan minyak bumi. Proses pembuatannya menghasilkan molekul dengan ikatan yang sangat kuat. Ditambah dengan zat aditif agar material tidak mudah rusak ketika terkena panas, plastik akhirnya menjadi material yang sulit dikenali dan diuraikan oleh alam. Mikroorganisme di tanah belum memiliki kemampuan atau enzim khusus untuk memutus ikatan kimiawi buatan tersebut (Drewniok, M.P., dkk., 2023). Akibatnya, beberapa jenis plastik membutuhkan waktu yang sangat lama untuk terurai sepenuhnya.
Sampah yang Terus Menumpuk
Sisa konsumsi yang terus bertambah perlahan menjadi persoalan besar bagi lingkungan. Kondisi tersebut dapat dilihat di Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Bantargebang, Jawa Barat. Berdasarkan data per Maret 2026, kawasan tersebut diperkirakan telah menampung sekitar 55 juta ton sampah (Kumparan, 2026). Ketinggian timbunan bahkan mencapai sekitar 50 meter. Jumlah tersebut menggambarkan besarnya persoalan sampah yang harus dihadapi masyarakat di sekitar kawasan tersebut.
Anak-anak menjadi salah satu kelompok yang rentan terhadap dampak krisis lingkungan tersebut. Catatan kesehatan menunjukkan adanya gangguan pernapasan pada anak-anak dan balita di sekitar area pembuangan akhir. Keluhan yang dapat muncul antara lain hidung berair, bersin, hingga sesak napas akibat paparan udara tercemar (Kompas, 2023). Masa anak-anak yang seharusnya diisi dengan bermain dan belajar dapat terganggu oleh kondisi lingkungan yang tidak sehat. Jika berlangsung terus-menerus, paparan udara tercemar juga dapat meningkatkan risiko gangguan kesehatan, termasuk masalah pernapasan.
Apa yang Bisa Kita Lakukan?
Kondisi tersebut menjadi pengingat bahwa pengurangan sampah perlu dilakukan bersama. Masyarakat sekitar tempat pembuangan sering kali tidak memiliki banyak pilihan selain tetap tinggal di wilayah tersebut. Jika pola konsumsi yang menghasilkan banyak kemasan terus berlangsung, dampaknya tidak hanya dirasakan oleh lingkungan, tetapi juga oleh masyarakat yang tinggal di sekitarnya. Karena itu, diperlukan langkah perbaikan melalui kerja sama berbagai pihak.
Beberapa tindakan sederhana dapat dilakukan mulai dari lingkungan keluarga, seperti membawa tas kain ketika berbelanja, menggunakan botol minum isi ulang, serta membawa tempat bekal yang dapat digunakan kembali. Sampah organik dan anorganik juga perlu dipilah sejak dari rumah. Saat berbelanja daring, konsumen dapat meminta penjual untuk mengurangi penggunaan selotip dan pelindung berbahan sintetis yang tidak diperlukan. Mulailah dari kebiasaan sehari-hari dengan mengurangi kemasan yang tidak diperlukan, menggunakan kembali barang yang masih layak, serta memilah sampah organik dan anorganik di rumah.
Peran Bersama
Pengurangan sampah juga membutuhkan pembenahan dalam skala yang lebih luas. Pemerintah perlu menetapkan aturan mengenai standar pengemasan yang lebih ramah lingkungan bagi pelapak daring. Perusahaan juga perlu bertanggung jawab dengan mengembangkan kemasan berbahan nabati yang lebih mudah terurai oleh alam (Rodriguez, F., 2026). Selain itu, fasilitas pengolahan sampah di berbagai daerah perlu terus diperbaiki agar timbulan sampah tidak hanya terkonsentrasi di satu lokasi.
Mulai dari Kebiasaan Kecil
Krisis lingkungan akibat tumpukan material sintetis merupakan persoalan nyata yang dapat berdampak pada kesehatan generasi mendatang. Kenyamanan berbelanja daring perlu diimbangi dengan kesadaran terhadap sampah yang dihasilkan. Mengubah kebiasaan kecil, seperti mengurangi penggunaan plastik, menggunakan kembali barang, dan memilah sampah, dapat menjadi langkah awal untuk menjaga lingkungan. Kepedulian yang dilakukan sejak sekarang dapat membantu menciptakan lingkungan yang lebih sehat bagi generasi berikutnya.
Daftar Pustaka
- Drewniok, M.P., Gao, Y., Cullen, J.M., dan Cabrera Serrenho, A. 2023. *What to Do about Plastics? Lessons from a Study of United Kingdom Plastics Flows*. *Environmental Science & Technology*.
- Kompas. 2023. *Polusi Udara di TPST Bantargebang Ancam Kesehatan Anak dan Balita*. Kompas JEO. Diakses pada 17/09/2026. https://jeo.kompas.com/polusi-udara-di-tpst-bantargebang-ancam-kesehatan-anak-dan-balita
- Kumparan. 2026. *Sampah Bantargebang di 2025 Capai 55 Juta Ton, 43% Sampah Makanan, 28% Plastik*. Kumparan News. Diakses pada 17/09/2026. https://kumparan.com/kumparannews/sampah-bantargebang-di-2025-capai-55-juta-ton-43-sampah-makanan-28-plastik-26yYk2FFpyu/full
- Rodriguez, F. 2026. *Plastic*. *Encyclopedia Britannica*. Diakses pada 17/09/2026. https://www.britannica.com/science/plastic