APIFAClimate Resilience Hub
Artikel Variabel IklimSMPBahasa Indonesia

Air di Gelas Kita Punya Rumah: Dari Mana Sebenarnya Air Minum Kita Berasal?

Air minum yang kita gunakan sehari-hari memiliki perjalanan panjang melalui sistem air permukaan dan air tanah. Kenali hubungan antara curah hujan, daerah resapan, air tanah, perubahan iklim, dan cara sederhana menjaga sumber air di sekitar kita.

Apifa OfficialTerbit 1 Oktober 20266 menit baca
Favoritkan

Difavoritkan 0 orangDibagikan 0 kali

Masuk sebagai siswa untuk menyimpan progres belajarmu dan mengumpulkan badge.

Air di Gelas Kita Punya Rumah: Dari Mana Sebenarnya Air Minum Kita Berasal?

Saat haus, kita mungkin hanya perlu mengambil gelas, membuka galon, atau mengisi botol dengan air minum. Sederhana. Kita biasanya lebih sibuk memastikan air tersebut bersih dan aman diminum daripada memikirkan perjalanan panjangnya. Namun, pernahkah kita bertanya: sebenarnya dari mana air yang kita minum berasal?

Siklus Air

Air tidak muncul begitu saja. Sebagian air yang kita gunakan berasal dari sistem air permukaan, sementara sebagian lainnya berkaitan dengan air tanah yaitu air yang tersimpan dan bergerak di bawah permukaan tanah. Sebelum dimanfaatkan manusia, air hujan dapat meresap ke dalam tanah dan menjadi bagian dari sistem bawah permukaan. Karena itu, tanah, vegetasi, dan batuan bukan hanya bagian dari pemandangan, tetapi juga bagian dari โ€œrumahโ€ air yang selama ini jarang kita lihat dan bagian dari ekosistem yang perlu kita lindungi.

Kondisi perkotaan dengan permukaan kedap air/genangan, dampak berkurangnya daya resap tanah akibat pembangunan.

Bayangkan tanah seperti spons. Ketika permukaannya masih mampu menerima air, sebagian hujan dapat meresap ke bawah. Namun, ketika semakin banyak lahan berubah menjadi bangunan, jalan, dan permukaan kedap air, kesempatan air untuk masuk ke dalam tanah dapat berkurang. Akibatnya, air hujan lebih banyak mengalir di permukaan. Inilah alasan mengapa menjaga daerah resapan bukan hanya urusan ahli geologi atau pemerintah, tetapi juga bagian dari menjaga keberlanjutan ekosistem sumber air. Lalu, apa hubungannya dengan perubahan iklim?

Ketika Curah Hujan Berubah

Data Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menunjukkan bahwa indikator curah hujan di Indonesia mengalami perubahan selama periode 1981โ€“2024. Perubahan tersebut terlihat, antara lain, pada curah hujan maksimum harian, jumlah hari hujan, dan kejadian hujan dengan intensitas tinggi. Pada lokasi dengan peningkatan tertinggi, curah hujan maksimum harian meningkat sebesar 118 mm dalam 44 tahun, sedangkan jumlah hari dengan hujan lebih dari 50 mm per hari meningkat hingga 25 hari dalam periode yang sama.

Kota yang Semakin Tertutup, Air yang Semakin Sulit Meresap

Namun, perubahan iklim bukan satu-satunya cerita. Cara kita mengubah permukaan bumi juga menentukan perjalanan air. Hal itu terlihat di Kota Surakarta. Penelitian Sulistiani dkk. menunjukkan bahwa area terbangun diproyeksikan mencapai 71,08% pada 2030 dan 71,83% pada 2040. Dalam pemodelan mereka, rata-rata pengisian kembali airtanah diproyeksikan menurun dari 83,85 mm per bulan pada skenario pemanasan sedang (SSP2-4.5) menjadi 78,25 mm per bulan pada skenario pemanasan tinggi (SSP5-8.5) pada 2030. Penelitian tersebut menyebut ekspansi permukaan kedap air akibat urbanisasi sebagai salah satu faktor utama yang mendorong penurunan pengisian airtanah.

Mata Air Cokro dan Rumah Air di Lereng Merapi

Contoh lain berada tidak jauh dari Surakarta, yaitu di Klaten. Mata Air Cokro, yang menjadi sumber air baku bagi PDAM Kota Surakarta sekaligus air minum warga Desa Cokro, mengandalkan pasokan sebesar 1.500 liter per detik dari daerah imbuhan yang membentang di dua sub-DAS berbeda di lereng Gunung Merapi. Sayangnya, tutupan hutan di kawasan hulu ini kini sangat minim, sehingga penelitian merekomendasikan pola agroforestri dan konservasi tanah untuk menjaga laju infiltrasi air hujan ke dalam tanah.

Mata Air Cokro (Umbul Cokro) di Klaten, Jawa Tengah, salah satu sumber air baku bagi PDAM Kota Surakarta. Sumber: Rumah123

Menjaga Air Berarti Menjaga Rumahnya

Temuan tersebut membuat saya melihat air dengan cara yang sedikit berbeda. Selama ini, ketika berbicara tentang menjaga air, kita sering membayangkan tindakan seperti tidak membiarkan air terbuang percuma. Itu memang penting. Namun, menjaga air seharusnya dimulai lebih jauh, yaitu menjaga tempat air itu berasal dan jalur yang dilaluinya. Saya belajar bahwa tanah dan batuan bukan sekadar tempat manusia berpijak. Ada ruang pori, rekahan, lapisan batuan, dan kondisi permukaan yang ikut menentukan bagaimana air bergerak di bawah tanah. Sistem yang tidak terlihat inilah yang perlu kita pahami dan jaga sebagai satu kesatuan ekosistem.

Kenali, Jaga, dan Ceritakan

Anak-anak pun dapat mengambil bagian bersama orang tua atau guru. Kita bisa memulainya dengan tiga langkah sederhana: Kenali, Jaga, dan Ceritakan.

  1. Kenali dari mana air di rumah atau sekolah berasal, misalnya dengan bertanya kepada orang tua atau petugas PDAM setempat.
  2. Jaga tanah terbuka dan vegetasi di sekitar rumah agar tetap menyerap air hujan, misalnya dengan tidak menutup seluruh halaman dengan semen.
  3. Ceritakan kembali pengetahuan itu kepada teman dan keluarga.

Membuat peta sederhana bersama teman sekelas yang menunjukkan area hijau dan saluran air di sekitar sekolah bisa menjadi langkah awal yang menarik. Kegiatan tersebut tentu tidak menggantikan kajian ahli, tetapi dapat melatih kepekaan terhadap lingkungan sejak dini.

Dari Mana Air di Gelas Kita Berasal?

Jadi, lain kali ketika kita mengambil air minum dari galon atau mengisi botol, mungkin kita bisa berhenti sejenak dan bertanya, dari mana air ini berasal? Sebab, sebelum menjaga air yang ada di gelas kita, kita perlu menjaga rumah tempat air itu berasal.

Daftar Pustaka

  • Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG). 2025. Laju Perubahan Curah Hujan. BMKG. Diakses pada 13/09/2026. https://www.bmkg.go.id/iklim/analisis-laju-perubahan-curah-hujan
  • Sulistiani, Lubis, R.F., Santikayasa, I.P., dan Taufik, M. 2025. Groundwater recharge modeling with integration of land use/land cover and climate change projections in Surakarta City, Indonesia. *Journal of Groundwater Science and Engineering*. 13(4): 352โ€“370.
  • Adi, R.N. 2023. Agroforestri untuk Konservasi Air Lereng Merapi. Forest Digest. Diakses pada 13/09/2026. https://www.forestdigest.com/detail/2399/agroforestri-konservasi-air-merapi
#air tanah#daerah resapan#infiltrasi#curah hujan#sumber air#konservasi air

Konten lain pada kategori ini

Lanjutkan belajar dengan bahan yang masih satu kategori.

11 menit baca
Artikel Variabel IklimID

Mengenal Sistem Iklim Bumi: Ketika Semua Komponen Saling Terhubung

Pernahkah kamu bertanya-tanya bagaimana atmosfer, lautan, es, daratan, dan makhluk hidup saling bekerja sama mengatur iklim Bumi? Yuk, kenali lima komponen sistem iklim, mulai dari siklus karbon hingga mekanisme umpan balik yang membuat perubahan di satu bagian Bumi dapat berdampak ke bagian lainnya

Oleh Apifa Official

Baca Artikel
16 halaman
Flipbook Variabel IklimID

Siklius Air di Bumi

Siklus air merupakan proses air yang berawal dari tanah menuju ke langit dan menjadi hujan.

Oleh Apifa Official

Baca Flipbook